1. Berikan mereka lebih dari yang mereka harapkan dan lakukan itu dengan senang hati.
2. Menikahlah dengan pria/wanita yang anda cintai. Ketika anda beranjak tua, keahlian percakapan mereka akan mejadi sepenting seperti hal lain.
3. Jangan percaya dengan apa yang anda dengar, Habiskan apa anda miliki atau tidur semau anda.
4. Ketika anda ucapkan, “Aku mencintaimu”, Seriuslah.
5. Ketika anda ucapkan, “Maafkan saya”, pandang mata orang itu.
6. Tunanganlah sedikitnya enam bulan sebelum anda menikah.
7. Percayalah pada cinta pandangan pertama.
8. Jangan tertawakan/remehkan impian orang. Orang yang tidak punya impian adalah miskin.
9. Cintailah dengan mendalam dan bergairah. Anda mungkin akan terluka, tapi ini satu-satunya cara untuk menjalani hidup sebenarnya.
10. Saat terjadi percekcokan/pertengkaran, Janganlah menyebut nama.
11. Jangan menilai orang karena dengan siapa mereka berteman.
12. Bicaralah pelan tapi berpikirlah cepat.
13. Ketika seseorang mengajukan pertanyaan, yang anda sendiri tidak ingin menjawabnya, tersenyumlah dan tanya, “Kenapa anda ingin tahu?”
14. Ingat bahwa cinta dan kesuksesan besar membutuhkan pengorbanan.
15. Ucapkan “berkah bagimu” saat anda mendengar orang bersin.
16. Ketika anda kalah, jangan lupakan pelajaran yang didapat.
17. Hargai diri sendiri; Hargai orang lain; Bertanggung jawab pada semua yang anda lakukan.
18. Jangan biarkan pertengkaran kecil merusak persahabatan yang besar.
19. Ketika anda sadar telah berbuat kesalahan, Ambil langkah segera untuk memperbaikinya.
20. Tersenyumlah saat menerima telepon. Penelpon akan mendengarnya dari suara anda.
21. Habiskan waktu sendirian.
Oh Ya?
December 7, 2006 at 12:35 am (Renungan)
SEBELUM AKU BERPULANG (UNTUK PUTRIKU YANG KUTAK TAU DIMANA RIMBANYA)
December 7, 2006 at 12:30 am (Cerita)
Teruntuk putriku tercinta..
Aku tak tau bagaimana harus kuungkap rasaku. Hanya dengan jalan inilah yang kuanggap paling mudah. Tapi izinkan aku untuk melakukan dua hal, ok? Aku ingin kau mengizinkanku untuk mengingatkanmu bahwa aku ini cuma seorang laki-laki beristri yang dalam prosesnya kemudian memiliki kau–kalau aku tak boleh menyebut diriku ayah. Tapi untuk kali ini, izinkan uku untuk menyebut diriku seorang ayah, setuju?
Putriku, aku ini hanya seorang laki-laki normal, yang bahagia ketika mendapatkan kau sebagai darah dagigku sendiri, yang terharu ketika kau bisa sebutku dengan ‘Ayah’ (sungguh aku tak lebih berbahagia daripada hal ini), yang kuatir ketika kau belajar jalan. Benar sebenar-benarnya, bahwa aku takut sekali waktu kau mengenal dunia luar, kau sekolah untuk pertama kalinya!
Kekuatiranku sebagai seorang ayah normal bertambah ketika kau beranjak remaja, nak. Kau tau kan? Dunia ini tak ubahnya belantara yang rimbun dengan rumah-rumah batu, dan jalan setapak beraspal, dimana hewan-hewan buas dengan bebasnya berkeliaran. Yahh, aku sebagai seorang ayah normal kan takut kalau-kalau kau berteman dengan mereka. Aku takut kau berhubungan dengan buaya-buaya darat berkawan ular-ular yang siap memangsamu. Belum lagi bajing-bajing yang berloncatan tak tentu arah, berpetualang–katanya, sih–mencari ‘hidup’. Aku ini cuma pingin kamu bermetamorfosis jadi kupu-kupu yang cantik, itu saja. Tapi tolong jangan disalah-artikan. Aku sama sekali tidak ingin kamu jadi kupu-kupu ‘malam,’ itu sih kalong namanya.
Nak, kalau aku marah itu bukan berarti aku anggap kamu selalu salah dan menuduh kamu macam-macam. Aku mengaku salah, dan aku mohon maaf untuk ini. Sebenarnya aku ini tak ingin jadi bahan gunjingan orang yang mengatai kamu macam-macam. Selalu saja ada omongan panas di kuping tentang kamu dari orang-orang sekitar, itu membuatku marah dan berpikir ‘Dasar anak dungu! Tidak tau apa, kalau aku disini terima laporan yang buruk dari kerabat! Apa aku ini harus pertaruhkan harga diri dan jabatan yang aku peroleh dengan perjuangan bertahun-tahun?’
Astaga, orang tua macam apa aku ini? Aku tak seharusnya melulu memikirkan harga diri, gengsi, dan jabatan. Seharusnya aku lindungi kamu dengan mengatakan yang sebenarnya. Aku tau kamu marah waktu itu, dan kamu pasti berpikir bahwa aku hanyalah seorang yang kekanakan dan tak siap punya anak. Tapi sungguh, aku menyesalinya sekarang! Aku hanya tak tau harus berbuat apa selain marah-marah. Aku tau aku egois, maka maafkan keegoisanku.
Aku ini hanya seorang ayah yang normal, nak.. Tolonglah ingat itu, ok?
Ok, aku mengaku. Aku sebenarnya ingin hidupku berjalan sempurna. Saudara yang rukun, tempat aku bisa menceritakan segala kesenangan dan kepedihanku dalam hidup (tapi kau kan tau sendiri gimana nenekmu). Tamat sekolah dengan nilai memuaskan (tapi otakku tak mampu, jadi aku ‘amplop’i itu semua staf sekretariat). Istri yang mencintaiku (baru-baru ini kutau kalau ternyata ibumu mau menikah denganku karena hanya ingin kekayaanku. Padahal kan kau tau keadaan ekonomi di kampung halamanku sana. Aku benar-benar merangkak dari NOL, nak! Yah walaupun untuk bisa dapat jabatan yang sekarang ini aku harus mendekati orang ‘atas’ dan memberinya amplop ber’isi’ sampai bereMber-eMber jumlahnya). Anak-anak yang bisa memberiku kebahagiaan dan berkembang sesuai umur dan lingkungannya (tapi apa yang kudapat? Hanya gunjingan mengenai tingkahmu yang bikin malu namaku. Jadi itulah kenapa aku selalu marah-marah ke kamu). Oh, astaga! Borokku banyak sekali. Seharusnya aku menjalani hidupku dengan apa adanya kan?
Aku masih ingat waktu aku maki-maki dan lempar itu remote TV ke bulikmu. Sebenarnya bukan hanya dia minta tolong kamu stir dia punya mobil saja yang buat aku lempar itu remote, tapi karena dia izinkan kamu untuk kelayapan sendiri tanpa teman dan tidak jelas kemana kamu pergi. Aku melarangmu pergi-pergi karena aku ingin kamu ada di dekatku waktu aku pulang dari dinas luar kota-ku, itu saja kok, swear! Tapi bulikmu itu seenaknya aja bawa-bawa kamu tanpa izinku, bahkan telfon pun tidak! Memang yang jadi orang tuanya dia atau aku? —
* Cerita ini belum sepenuhnya selesai. Sorry for this inconvinience.
Cinta
December 7, 2006 at 12:26 am (Renungan)
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis? ketika kita membayangkan?
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT…
Kita semua agak aneh…dan hidup sendiri juga agak aneh.
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya
SEJALAN dengan kita..
kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu
keanehan serupa yang dinamakan CINTA..
Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan.
Orang2 yang tidak ingin kita tinggalkan…
Tapi ingatlah…melepaskan BUKAN akhir dari dunia..
melainkan awal suatu kehidupan baru..
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka
yang tersakiti,
mereka yang telah mencari…dan mereka yang telah
mencoba..
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..
CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH
peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu
MASIH menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu
MASIH bisa tersenyum
sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas
LAGI..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya..
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang..
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana…dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar tentang dirimu sendiri..
dan menyadari..bahwa penyesalan tidak seharusnya ada..
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan2 kehidupan
yang telah kau buat
TEMAN SEJATI mengerti ketika kamu berkata ‘Aku lupa..’
Menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘Tunggu sebentar’
Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘Tinggalkan aku sendiri’
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata
‘Bolehkah saya masuk?’
MENCINTAI… BUKANlah bagaimana kamu melupakan..
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN..
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan..
melainkan bagaimana kamu MENGERTI
BUKANlah apa yang kamu lihat..
melainkan apa yang kamu RASAKAN
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan..
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN..
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati…
Dibandingkan menangis tersedu2..Air mata yang keluar
dapat dihapus..
sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka
yang tidak akan pernah hilang
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah,
kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia..dapat
mencintai seseorang..
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti
mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai
Kita MELAINKAN karena kita menyadari
bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita
melepaskannya.
Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan
lepaskan dia…
jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu
benar2 mencintai
MELAINKAN…BERJUANGLAH demi cintamu Itulah CINTA
SEJATI
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
DARIPADA orang yang berada di sekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan
hanya dengan’seseorang’
Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang
PALING menyakiti hatimu
dan kadang kala, teman yang mebawamu ke dalam
pelukannya dan menangis
bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari..
Cinta Itu Anugerah
December 7, 2006 at 12:23 am (Renungan)
Masya Allah, seandainya aja kita tau betapa indah anugerah yang Allah berikan pada kita. Begitu indah dunia dengan hadirnya cinta. Cinta adalah anugrah terindah yang pernah diterima manusia,dan akan selalu hidup dalam setiap hati manusia. Cinta bukanlah benda yang diberikan begitu saja dan lalu bisa kita buang bila kita tidak menyukainya.
Banyak cara untuk mencintai, banyak jalan menuju kebahagiaan. Allah memberi kemudahan, Allah juga memberi kesulitan dan cobaan. Namun hanya manusia yang melihat dengan mata hati dan berpikir dengan hati dan cinta yang dapat mengubah semua cobaan dan kesulitan menjadi kemudahan.
Cinta tidak pernah menghitung berapa lama kita menjalin suatu hubungan, tetapi bagaimana kita bisa membuatnya berkembang dengan indahnya. Cinta hanyalah sebuah awal dari seluruh hidupmu. Dan inilah awal hidupku.
Cinta tidak akan pernah mengungkap keburukanmu, tidak pernah membuka sisi negatifmu, dan cinta akan menutup semua kejahatanmu. Cinta adalah saat kamu merasakan bagaimana buruknya keadaanmu setelah kamu kehilangan seseorang yang begitu berarti untuk dirimu, seseorang yang telah mengubah dirimu, seseorang yang membuatmu merasa penting dan akan selalu dibutuhkan. Pada saat itulah cinta datang memberimu harapan untuk dapat hidup kembali dan membiarkanmu meraihnya dengan cara apapun. Cinta akan membantumu menjalani kehidupanmu dengan lebih mudah.
Pada dasarnya cinta tidak akan pernah menyakitimu. Hanya saja kau telah menempuh jalan yang salah untuk meraihnya. Cinta adalah seindah-indah perasaan yang pernah dirasakan manusia. Setialah pada cinta, dan cinta akan setia kepadamu. Cinta tidak akan mengkhianati dan meninggalkanmu. Cinta hanya ingin kamu merasakan apa yang terjadi pada hidupmu kalau cinta tak datang menghampiri dan menyapa hatimu.
Cobalah berpikir betapa cinta telah menyelamatkan nyawamu berulang kali. Bagaimana dia datang kembali padamu setelah kau nyaris kehilangan kendali pada dirimu. Bagaimana dia datang untuk memperbaiki hubunganmu yang kacau. Dan bagaimana dia membuatmu merasa bahwa kamu adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.
Pikirkanlah bagaimana cinta menghadirkan dirinya dalam kehidupanmu. Terlalu banyak yang telah dilakukan cinta hingga mungkin kamu hanya berpikir, ah itu hanya keberuntunganku saja. Cobalah berterima kasih pada cinta. Banyak cara untuk berterima kasih pada cinta. Yang paling utama adalah, CINTAILAH PEMBERI CINTA PADA HIDUPMU. Bayangkan bila tidak ada cinta di dunia ini!
Cinta adalah saat kamu merasa bahagia ketika kamu melihat orang yang kamu cintai bahagia, saat kamu merasa sedih ketika dia sedih, dan menjalani saat-saat sedih dan bahagia bersama-sama. Cinta adalah sumber kekuatan. Cinta adalah saat kamu harus jujur pada dirimu sendiri dan orang yang kamu cintai. Cinta adalah saat kamu mendengar, berbicara dan menghargai kebenaran dan tidak pernah menolaknya. Cinta adalah sumber kebenaran. Cinta adalah saat kamu saling mengerti secara keseluruhan bahwa kamu merasa seperti kamu adalah bagian dari orang lain. Cinta adalah sumber kebersamaan. Cinta adalah kebebasan untuk mengungkapkan segala keinginanmu saat kamu membaginya dengan orang yang kamu cintai. Cinta adalah ketika kamu dan orang yang kamu cintai mengerti perkembangan masing-masing dan bersama-sama mengembangkan cinta yang kalian punyai. Cinta sumber segala sukses. Cinta adalah kebahagiaan saat merencanakan segala sesuatu yang akan terjadi pada hidup kalian berdua dan melakukannya bersama. Cinta adalah pangkal masa depan.
Cinta adalah dahsyatnya badai dan tenangnya pelangi. Cinta adalah pangkal dari semua perasaanmu. Cinta adalah saling memberi dan menerima kehidupan masing-masing, dan dengan sabar mengerti keinginan dan kebutuhan masing-masing. Cinta adalah berbagi segalanya. Cinta adalah saat kamu mengetahui bahwa orang yang kamu cintai akan selalu berada disampingmu apapun yang akan terjadi. Cinta adalah saat kamu saling merindukan dengan orang yang kamu cintai pada saat dia tidak ada disampingmu, dan mengetahui bahwa dia akan selalu ada di hatimu. Cinta adalah sumber dari semua perasaan amanmu. Cinta adalah sumber segala kehidupanmu!
Dia Bilang..
December 7, 2006 at 12:22 am (Puisi)
Dia bilang..
Dia pingin aku jadi temen hidupnya dan jadi ibu anak-anaknya
Dia bilang..
Tulang rusuk terakhirnya yang sebelah kanan sudah jadi aku
Dia bilang..
Aku adalah keajaiban dalam tiap harinya
Dia bilang..
Dia sayang aku
Tapi sejauh apa sayang yang bisa aku beri untuk dia dengan segala kekurangan dan ketakberdayaanku?
Sesering apa aku memberi keajaiban dalam hari-hari yang dia lalui?
Bagaimana dia begitu yakin bahwa aku dibuat dari tulang rusuknya?
Aku cuma manusia biasa..
Yang menjalani pahit manis hidupku
TENTANG SESEORANG YANG SINGGAH DI HATIKU
December 7, 2006 at 12:20 am (Cerita)
Dia bukanlah bagian dari hidupku, tidak pernah walau sedetikpun. Mengenalnya pun tidak. Dia hanyalah seseorang yang selalu duduk di tempat duduk yang sama, gerbong yang sama, kereta yang sama. Kereta yang selalu kunaiki setiap pagi bila akan berangkat ke kantor.
Sebelumnya aku tak pernah menyadari dia ada, hingga aku bertatap pandang dengannya dan senyumnya yang menawan tersungging di bibirnya. Hari-hari berikutnya aku semakin sering melihatnya. Dia selalu membawa buku sketsa dan pensil yang sama, yang kian hari kian memendek. Dia selalu terlihat asyik melukis, sambil sesekali membubuhkan remah roti diatas buku sketsanya, dan sesekali melihat sekeliling.
Wajahnya selalu pucat, tapi tertutupi oleh ketampanannya. Sudah lima minggu aku selalu memperhatikannya, melihatnya melukis. Aku ingin mengenalnya, tapi tertahan oleh kodrat wanita yang hanya menunggu. Sedangkan dia juga hanya mencuri pandang, dan bila tiba-tiba kami saling bertatapan, kami tersenyum.
Yang membuatku terkejut adalah sikapnya kemarin. Tak kusangka-sangka dia berjalan ke arahku. Tapi kereta sudah berhenti di stasiun di dekat kantorku. Aku cepat-cepat turun. Dia berusaha mengejarku, tapi stasiun terlalu ramai.
Pagi ini aku bangun agak siang. Aku memaki diriku sendiri. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya kalau aku tidak bisa menghargai waktu? Dugaanku benar, dia tidak ada di tempat biasanya dia duduk. Dia pasti naik kereta yang sebelumnya. Hari itu aku tidak bersemangat bekerja.
* * *
Sudah dua minggu aku tidak melihatnya lagi duduk di tempat yang biasanya. Padahal sejak hari aku bangun kesiangan itu, aku selalu berangkat ke stasiun lebih pagi. Mungkin dia tidak menyukai orang yang tidak menghargai waktu, sehingga dia tidak mau menemuiku lagi.
Seperti pagi ini, aku tidak melihatnya duduk di kursinya. Aku berjalan pelan ke kursinya, dan duduk disitu. Belum lama aku duduk, seseorang memegang bahuku. Aku kaget, spontan aku berdiri dan menghadap ke orang yang memegang bahuku. Belum sempat kukeluarkan satu hurufpun, ketika lelaki itu bicara dengan lembut dan sopan.
“Non, Tuan yang biasa duduk di tempat duduk ini, meinitipkan amplop ini untuk Nona. Mari ikut saya.” Seperti tersihir, aku menurut saja tanpa bertanya lagi. Aku keluar kereta itu, mengikuti lelaki tadi. Dia membuka pintu sebuah mobil mewah dan mempersilakan aku masuk. “Saya akan antar Nona sampai tempat kerja.”
“Tuan meminta Nona membuka amplop itu sesampai Nona tiba di tempat kerja.” Selama perjalanan aku hanya diam. Setelah aku turun, lelaki itu berkata lagi, “Silakan dibuka. Akan saya tunggu hingga Nona selesai membacanya. Itu pesan Tuan.” Lalu aku membacanya.
Selamat pagi, bidadariku. Maafkan aku, aku takkan bisa lagi melihat wajahmu yang cantik itu, senyummu yang menarik itu, dan matamu yang berbinar itu. Aku takkan bisa menemuimu, lagi, sampai kapanpun. Fisikku yang lemah dan penyakitku yang kian hari kian menggerogoti tubuhku, membuat dokter memvonisku tidak boleh terlalu capai. Bersama surat ini, kuberikan dua buah lukisan hasil karyaku. Yang berlatar awan adalah bidadari yang kulihat di mimpiku, dan yang berlatar jendela gerbong itu kau. Mirip ya? Aku ingin bisa memilikimu, tapi ternyata aku tak bisa. Aku hanya bisa memandangmu, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku harus istirahat total di rumah, karena kondisiku yang makin parah. Maafkan aku, bidadariku. Maafkan aku bila aku selalu memperhatikanmu di kereta walau tak kausadari, bila aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan bila mencintaimu begitu dalam, sedangkan aku tak mampu lagi walau hanya memandangmu. Terima kasih atas segala yang kau lakukan pada hidupku. Kau telah mengubah segala yang ada di diriku. Aku mencintaimu. Salam, -Bima-
Setelah kubaca, kupandang lelaki setengah baya di hadapanku. Dan tanpa aku bertanya dia berkata, “Tuan berpesan agar amplop ini diserahkan setelah Tuan berpulang. Tuan telah berpulang pagi ini, pukul lima lewat dua puluh menit. Akan dimakamkan nanti pukul sepuluh. Bila Nona berkenan, Tuan ingin Nona untuk tidak masuk kerja hari ini dan melayat ke rumah duka.” Dadaku seperti tertimpa beban beribu-ribu ton.
Kudekap surat itu, kupanjatkan doa untuknya. Air mataku menitik, dan aku berbisik lirih, “Aku juga mencintaimu.” Lalu aku masuk mobil itu lagi. ***